mana kopiku pagi ini ?
berganti suasana sepi yg enggan beranjak pergi.
Kau tinggalkan aku sendiri di pagi tak bermentari
tak bernafas disini
Kembalilah sayang setidaknya untuk melihat ku mati
Kafani aku agar aku terlihat layak menghadap ilahi.
semua ini berawal ketika ku terlalu percaya diri menikahi mu di usia dini.janji sehidup-semati ini terlalu pagi untuk diakhiri.5 tahun yang lalu setelah beberapa tahun setelah pengukuhan gelar kesarjanaan ku,aku terlalu percaya diri menikahimu.terlalu berpikir mampu mengimami mu.tanpa ada persiapan ekonomi yang mengikuti.tanpa ada persediaan pundi2 rupiah yang dikantongi.bermodal cinta terlalu bodoh untuk mengawali.dengan keyakinan 4tahun mempertahankan status,berharap naik ke level berikutnya tanpa persiapan ritualisasi.bodoh.
semua berjalan sangat manis di pagi itu,di pagi pertama aku mengawali pagi dengan kau disisi.setelah hari sebelumnya kita menjadi raja dan ratu sehari di pelaminan.haru tak terkira.rasa kesetiaan ku sangat tinggi saat itu,ingin rasanya aku melumpuhkan naluri lelaki ku untuk menyukai lawan jenis saat itu agar ku selalu setia sampai mati.pagi itu kau membawakan ku kopi yang menyadarkan letihku.sungguh kopi yang beraroma surga.aku suka itu.
"mas,ini kopinya"
kau menawarkan ku dengan manisnya.
aku tertawa geli dan belum memiliki pengalaman khusus dalam memerankan seorang suami,aku tertawa geli dan membalas manja.
"tiupin,panas"
aku sampai terpingkal-pingkal sendiri.
benar-benar hangat kenyataan 3bulan pertama kita.semua masih bersuasana dongeng yang terasa mimpi.apalagi moment terindahnya ketika hari ulang tahun ku yang ke 26.saat itu aku baru pulang dari toko untuk membeli rokok.
dan ketika ku baru masuk menginjak rumah kontrakan kita,kau langsung mengecup bibirku dan berkata
"ayah,selamat ulang tahun ya.ada kado dari Allah khusus untukmu".
aku bingung tak berkomentar.
Ayah ?
kado ??,kado apa ?
pekerjaan ?? jika benar,aku sungguh sangat bersyukur.sampai ini ku masih tetap setia dengan menulis dan menulis.
tak terlalu menjanjikan untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga kecil ini.
" ayah ??,tumben kamu manggil aku ayah yang ?? "
" kado apa,dari Allah ?"
" lamaran pekerjaan ku di terima ?"
aku tak henti menyerang istriku dengan semua pertanyaan penuh harap.
“ bawel ah,liat aja tuh di meja tulis mu”
Aku berjalan berat dengan semua tanda Tanya menuju tempatku menghabiskan waktu untuk menulis.
“ mana sayang,mana undangan kerjanya ?”
Tanya ku makin penasaran.
“ckckckckckc . . . . kamu ini taunya usaha aja,udah berhasil gak tau hasilnya apa ?”
Istri ku menjawab sedikit kesal karna ulah ku yang mendadak bodoh.
“ ini,hasil 2 bulan kamu lembur”
Jawabnya kesal.
Ha,aku lembur ??
Aku lembur selama ini kan Cuma buat nulis.itu pun belum aku selesaikan.kok sudah ada hasilnya ?
Terus kenapa hasilnya dalam bentuk sebuah alat tes kehamilan ?
Aku makin bingung dengan sesuatu yang dianggapnya sebagai kado dari TUHAN itu.
“mana kado dari TUHAN nya sayang ?”
Tanya ku memastikan.
“ kamu ini idiot,atau apa sih ?”
“aku hamil tau,dan yang dalam perut ku ini adalah kado khusus dari TUHAN untukmu !!”
Apa ?? aku benar-benar bingung menentukan sikap.semua ini lebih dari apapun yang aku harapkan.
“Aku akan jadi ayah !!”
“Dunia,dengarkan aku.aku akan jadi seorang ayah.ayah albian !!”
Aku berlari tak karuan.seperti seorang kecil yang girang setelah memperoleh sesuatu yang sangat di inginkannya.aku terus berlari bahkan sampai mengelilingi kotak kontrakan yang sudah kami tempati 3 bulan setelah menikah.bentuk komitmen kami untuk mandiri terhadap hubungan ini.
“ mas bian,udah ah.malu tau ntar diliatin tetangga”
“ingat,kita ini mengontrak bukan rumah sendiri’
Istriku berusaha menyadarkan ku.
Hahahahahaha
Aku tak menghiraukannya.aku peluk dan ku gendong wanita ku itu dan berteriak.
“terima kasih untuk mu kado mu TUHAN !!”
Aku tak henti-hentinya bersujud syukur.
Waktu berjalan bersemangat sampai tak ku sadari istriku sudah mengandung calon peri kecil ku itu 8bulan.itu hasil dari USG yang kami lakukan beberapa minggu lalu.tinggal 1 bulan lagi aku akan jadi ayah.pukul 13.00wib 12 JULI 2016 istri ku mengalami kontraksi hebat.dan aku sesegera mungkin mengatarkannya ke rumah sakit terdekat di kota kami.dan istri ku sesegera mungkin di bawa keruang persalinan.dan aku segera menghubungi seluruh keluarga untuk menyambut lahirnya seorang titipan TUHAN itu.agar dia kelak tak merasa kesepian di saat pertamanya membuka mata melihat dunia.sudah 2 jam lebih istri ku di dalam sana berjuang memerdekakan keinginan hidup anak kami.ketika dentang jam berbunyi 3 kali,menandakan saat itu waktu sudah menunjukan pukul 15.00wib,seorang dokter keluar dengan wajah yang tak bias di terka.
“mana suami dari ibu gisela ?”
dan dia mengagetkan semua dengan bertanya
“saya dok,saya,bagaimana kabar istri saya ??”
“ Bagai mana dok,istri dan anak saya selamat kan ?”
Dengan sedikit menangis Aku menggoyangkan-goyangkan tubuh dokter itu agar dia cepat menjawab.
“anak anda perempuan pak.tapi maaf pak bian,kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya.kami memilih menyelamatkan isti anda.karna anak anda tetap berpeluang hidup walaupun sampai saat ini masih belum menunjukan tanda-tanda kehidupan.kita sama-sama mengushakan dan mendoakannya ya pak”
Aku terjatuh lemas mendengarnya.aku sudah mempersiapkan semua penyambutan untuk peri kecil ku itu.semua cita-cita ku yang aku ingin dia yang mewujudkannya.aku nyaris gila untuk menerima kenyataan itu !!.
Pukul 17.00wib ketika aku menghampiri tubuh mungil jagoan ku itu dan bersiap memandikannya dan mengadzaninya.ketika ku basuh lembut kepalanya,mendadak malaikat kecil itu menangis lantang hingga terdengar hampir keseluruh rumah sakit.
dia hidup !!
Dia bernyawa !!
“dokter,dokter anak ku hidup !!”
aku berteriak memeluk dokter.
“selamat ya pak albian,dan ibu Gisela.anak anda cantik seperti ibunya ”
Dokter memberikan kami selamat untuk kelahiran putri kami.
Dokter benar,anak itu terlihat bercahaya setelah senja bergelayutan di ujung barat.itu mengapa kami menamakan anak itu cantika Sheila jingga.nama yang cantik untuk dia yang cantik.aku menangis menerima itu semua.terima kasih TUHAN.
TUHAN,kau turunkan malaikat mu ketika senja
ketika jingga enggan pulang kembali ke nirwana
mentari pun tak rela meninggalkan dunia karenanya
tak menangis mengawali dunia
membuat semua bersiap dalam duka
kau jawaban dari semua tanya
hal terindah khusus dariNYA
cantik bercahaya mengalihkan surga
dan aku,akan segera dipanggil ayah
TUHAN,ku pasrahkan hati dalam sujud tak terkira
ku hambakan diri menjaga semua indah
menuntunnya untuk kembali ke surga
bukan penyiaan penyesatan menuju neraka
ku rasa sekarang surga sedang berduka
berberat hati merelakan bidadari terindahnya
jingga,cepat besar ya nak
agar ayah bisa melihat kau merekah merayu dunia
bersama ibu mu kau membuat ayah sempurna
kalian menjadi alasan ku pertahankan nyawa
Tulisan itu ku tulisakan sebagai wujud syukur atas kelahiran cantik ku kedunia.hari dimana turunnya seorang mahluk surga ku de dunia.terima kasih TUHAN.saat itu bahagia ku mengalahkan segalanya.bahkan soal pembiayaan persalinan istri dan wanita baru ku itu nyaris ku lupakan.aku tau semua itu tak cukup hanya dengan ucapan terimakasih.beruntung aku sudah bersiap-siap untuk hari ini.tapi itu hanya berarti penundaan untuk memilik rumah sendiri.maaf sayang,ayah hanya bisa menyambut mu dengan kotak persegi ini.bukan istana bertahta emas.ayah harap kamu akan terbiasa.untuk kamu istri ku,ku harap kita masih memilik cukup banyak bahagia yang terisisa.AMIN.
waktu berjalan tanpa letih,jingga tumbuh menjadi seorang balita cantik menggemaskan.yang menjadi alasan ku untuk mempertahankan nyawa untuk esok,esok dan seterusnya sampai ku mati dalam kebahagiaanya.
"ayah . . .ayah . . ."
dia terlihat bersemangat setiap kali aku pulang berburu mencari pekerjaan.
" cantik,udah mandi ?"
aku mencium wanita ku itu.
"udah dong,jingga cantik kan"
dia bertanya polos.
"cantik dong,anak siapa dulu"
aku menciumnya sembari menggendongnya.
malam itu aku mengajak istriku duduk-duduk santai di luar rumah.hanya itu hiburan yang bisa aku sajikan untuknya.sudah lama aku tak membahagiakan wanita yang aku nikahi itu.pesonanya pun nyaris memudar di balik pakaian lusuh yang aku belum memiliki cukup uang untuk menggantikannya dengan yang baru.
"mas,sepertinya aku juga harus kerja.aku tak bisa terus berharap dari tulisan dan usahamu mencari pekerjaan yang layak"
dia membuka obrolan.
"kenapa sayang,aku masih cukup mampu kok untuk terus berusaha membahagiakan kamu dan gigi"
aku menjawab penuh penasaran.
"mas,aku tak bisa terus-terusan melihat gigi menangis setiap kali melihat temannya bermain dengan bonekanya masing-masing"
aku melupakan itu.aku belum juga membelikan boneka yang kujanjikan untuk anak itu.maafkan ayah ya nak.ayah tak memiki cukup rupiah untuk mengabulkannya.
"pokoknya aku akan kerja,aku juga bertanggung jawab terhadap keluarga ini"
dia berlalu meninggalkan aku dan lukisan malam itu.
paginya,aku bersiap memulai perburuan ku berburu rupiah melalui harapan penerimaan jasaku.semoga hari ini ada direktur yang bijak yang mempercayai keahlian pria seperti ku untuk bekerja dikantornya.semoga saja.
"bu mana kopi ku ?"
sudah lama aku tak merasakan kehangatannya seperti waktu kami baru menikah.
"kopi apa ?,kamu lihat tuh gula dan kopinya sudah habis !"
jawabnya dengan nada sedikit ketus.
aku tak menganggap itu adalah akibat dari obrolan tadi malam.
hari ini aku agak sedikit beruntung.salah satu cerpen ku di terima salah satu koran untuk turut di tampilkan.
alhamdulillah,aku masih bisa menjaga dapur ku tetap mengepulkan asapnya.terimakasih TUHAN.
aku pulang dengan langkah sedikit ringan karna berhasil mengantongi sedikit rupiah.aku juga menyisakan sedikit untuk membelikan sebuah boneka untuk malaikat kecil ku itu.dia pasti akan senang banget.ketika ku pulang aku mencari-cari mereka.
"sayang . . .sayang . . .lihat ayah bawa apa ?"
tak juga ku temui bocah itu di setiap sudut kontrakan ini.
aku hanya menemukan sebuah surat bertuliskan :
untuk mas albian
"mas,aku dan jinggai tidur dirumah mama.tadi pagi jingga sakit.panasnya tinggi banget.aku bingung mau kemana lagi.
kamu juga belum pulang.jadi aku putuskan untuk pulang kerumah mama.aku takut jingga kenapa-napa.maaf aku tak bilang apa-apa sebelumnya.aku juga baru menyadarinya ketika kamu udah pergi.aku meninggalkan makanan untuk mu di meja makan.aku akan pulang ketika jingga sudah sehat"
dari istrimu,gisela.
aku terduduk lesu di kursi rotan milik kami.kenapa harus begini TUHAN.kenapa masalah makin runyam ketika aku pulang membawa sedikit pencerahan lewat rupiah meskipun tak seberapa.aku pasti akn terlihat tak bertanggung jawab terhadap anak istri ku.aku pasrahkan semuanya pada mu TUHANkau pemilik hidup ku.aku lupakan sejenak beban pikiran itu berjalan untuk melihat apa yang ditinggalkan istri ku untuk ku.ku buka tudung saji itu.dan seperti biasa.hanya ada tempe dan tahu goreng sperti biasanya.harusnya kita makan cukup enak hari ini sayang.tapi kau justru tak ada dirumah.
siang itu aku lagi sendiri dirumah ketika seorang tukang post mengantarkan sesuatu ke alamat ku."betul ini rumah bu gisela ?"tukang pos memastikan.
"betul,ada kiriman apa ya ?"
aku bertanya.
"ini pak,ada kiriman untuk ibu gisela ?,silahkan ditandatangani tanda terimanya"
setelah menandatanganinya dan mengucapkan terimakasih,tukang post itu berlalu untuk menunaikany tugasnya yang lain.aku bertanya-tanya tentang isi dari amplop itu.siapa yang mengiriminya ??.kenapa gigi tak pernah cerita ?
aku sedikit terkejut ternyata itu adalah surat pernyataan penerimaan kerja untuk gisela,istri ku.
kapan dia melamar pekerjaan ?
dia tak bilanga apa-apa setelah mengutarakan keinginannya bekerja setelah malam ini.
aku merasa di langkahi sebagai suami.mengapa dia tak berniat untuk menghargai ku ?
minggu pagi pukul 8.30 wib,ketika aku lagi asyik menulis cerpen baru,gigi pulang dengan jingga diantarkan orang tua mertua ku.ku ku tunda untuk membahas rasa penasaran ku.aku sambut mereka dengan menyalaminya.tapi tak berbalas cukup sama.
"bian,kamu masih juga belum dapat kerja ya.kamu itu seorang suami kasihan anak istri mu"
pernyataan mama mertua ku itu menjatuhkan ku.
" iya ma,aku juga lagi usaha kok"
aku mencoba membela diri walaupun kenyataanya aku meman kalah.
"kamu harus cepat mencari kerja.kamu pikir bisa membahagiakan mereka hanya dengan menulis ?.
ini mengapa mama dulu kurang setuju kalian menikah di usia muda"
aku semakin tersudut dengan pernyataan itu.aku tak ingin terlihat lemah lebih dari ini.
malamnya aku mengajak istriku bicara setelah jingga terlelap bersama boneka beruangnya yang ku belikan untuknya kemarin.aku ingin mempertanyakan soal keinginan istriku itu untuk bekerja.aku merasa kurang setuju bukan karna aku bukan pria yang tak menghargai emansipasi wanita.tapi aku tak ingin jingga perkembangan jingga yang menjadi korban.
" sayang,kamu serius mau bekerja.gak dipikirkan lagi ??"
aku mencoba mempengaruhi keputusannya.
" mas,aku kan udah kasih alasan mengapa aku mau bekerja.aku mau kehidupan kita lebih baik lagi"
dia memiliki alasan yang bisa ku terima.tapi tetap saja aku memilik perasaan yang tak baik dan menkhwatirkan jingga yang akan dikorbankan.sekarang saja jingga sering kehilangan perhatian ku sebagai ayahnya.bagaimana jika ibunya juga disibukan hal-hal di luar rumah ? tapi setelah dia mencoba meyakinkan ku, pada akhirnya aku mengiyakannya sebagai bentuk menjaga hubungan suami-istri ini.ku harap dia bisa mempertanggung jawabkannya.
benar saja,setelah beberapa bulan bekerja,keuangan keluarga kami membaik.pagi itu setelah sholat subuh aku meminta dibuatin kopi yang sudah lama tak membasahi dahaga ini.bukannya kopi yang ku dapati,
gigi hanya menjawab
"maaf mas,aku ada meeting dengan bos pagi ini.kamu buat sendiri aja ya"
dan tergesa-gesa berlalu.
ini yang ku takutkan setelah meluluskan keinginannya bekerja.
dia tak lagi berwajah lama di setiap pagi ku membuka mata dan berubah menjadi manusia yang tak takut dosa.
pergi sangat pagi dan pulang larut malam.dan aku hanya berbohong ketika anaknya menanyakan keberadaanya padaku.
" ibu lagi bekerja sayang,sabar ya "
dan seperti memiliki satu pikiran yang sama dengan ku.
"tapi kok sampai malam ya yah ?"
kasihan malaikat ku.
sabtu malam ketika jam tangan kul menunjukan pukul 23.45 wib,sebuah mobil sedan hitam bertamu di depan rumah ku.
dan ku lihat istri ku menuruninya.tak terlalu jelas siapa yang mengantarnya.yang jelas,dia pria.
"gak mampir mas ?"
tanya istriku pada pria itu.
ntah hanya basa-basi atau memang penuh harapan aku tak tahu.yang jelas ini bukan waktu yang pantas untuk seorang wanita masih diluar rumah.apalagi dia adalah istri ku.ntahlah aku bingung menentukan sikap.aku bingung menerimanya.setelah dia memilih untuk bekerja masalah tak pernah absen ikut ambil bagian dalam keluarga ini.
puncaknya ketika malam berikutnya dia pulang dalam keadaan mabuk dan keadaan kusut.
"kamu dari mana bu,kamu mabuk ?"
tanya ku dengan tegas.
"udah ah mas,aku capek.besok aja kalo mau ngobrol "
dia benar-benar berubah setelah mengenal dunia.
yang jelas sejak rumah ini diramaikan dengan permasalahan suami - istri,jingga tak lagi terlihat bercahaya.
benar dugaan ku.ini semua hanya lah wajah awal dari permasalahan yang lebih buruk.dan yang jadi korbannya justru jingga yang tak tahu apa-apa.tangisannya terdengar lirih setiap kali kami harus bertengkar.maafkan ayah mu nak.
rabu sore ketika ku pulang dari usaha ku yang msih sama dengan hari kemarin.minggu lalu dan bulan lalu,yaitu mencari kerja,aku tak mendapati 2 orang wanita ku itu dirumah.lagi dan lagi aku hanya mendapati sebuah surat bertuliskan dari gigi,istri ku.
untuk mas bian
"mas,aku rasa kita sudah tak bisa meneruskan hubungan ini.aku tak bisa terus hidup dengan kemiskinan mu.setelah beberapa bulan aku bekerja,kamu masih saja setia dengan tulisan-tulisan tak menjanjikan mu.kolotan.jingga ku bawa mas,biar aku yang bertanggung jawab membesarkannya.maaf kan aku mas"
dari istri mu,gisela dwi jingga.
aku tak bisa berkata apa-apa.aku hanya tertawa karna tak bisa menentukan sikap lagi.aku tak bisa mencegahnya juga.
tak ada gunanya aku mengutuk diri jika jingga tak disini.aku merasa tak ada lagi alasan aku pertahankan nyawa.ku harap dia kembali kesurga sebagai bidadari.kasihan kamu nak,keputusan mu meninggalkan surga tak terlalu tepat.
"jingga. . . .jingga"
aku memanggil-manggil anak itu.aku lupa kalau pagi ini hari pertama ku bangun tanpa jingga disaat pagi membuka mata,aku nyaris gila.aku harus terbiasa.
pagi berikutnya,aku memanggil-manggil istri ku.
" gigi,gigi . . .sayang mana kopi ku ?"
lagi -lagi aku dalam tahap kritis gila.aku masih dalam tahap meneriman kenyataan kalau kopi terkhir ku adalah kopi 2bulan yang lalu.
sekarang aku memahami penolakan orang tua kami ketika menikah di usia dini tanpa ada persiapan ekonomi yang mumpuni.aku berpikir terlalu pagi untuk bisa mengalahkan malam.
sekarang aku hanya bisa meratapi ini sambil menunggu mati.
ku tulis semua ini sebagai cerita untuk mu anak ku jingga,dibantu oleh teman ayah yang menuliskannya.
ayah tak cukup mampu untuk menuliskannya
setelah kecelakaan itu,saat ayah masih mampu mencari mu.
kedua tangan ini harus di amputasi untuk menunda mati.
ayah harap kamu sekarang sudah cukup dewasa untuk tak mengulangi kegagalan ayah nak.
ayah sayang kamu dan ibumu.
ada puisi terakhir untukmu nak,ayah harap kamu suka.
puisi yang akan mengantarkan mu menemui ayah setidaknya untuk mengafani ayah.
Jika kau temukan aku tak lagi berdiri
jika kau temukan aku yang terlalu sombong tak mengerti
bukan karna aku tak ingin kau kembali
tapi karna ku sudah tak lagi menginjak bumi
diam ku bukan berarti ku tak menanti
tenang ku bukan berati ku tak disini
gagal ini jangan kau ulangi
tak usah terlalu percaya diri
untuk hal yang masih tak pasti
di sini,ayah kan mengawasi
memastikan kau tak tersakiti.
kau pasti sudah semakin cantik
layaknya senja saat kau pertama di dunia ini
nak,jaga selalu ibumu.
dia adalah ibu yang baik
rangkul dan hangati dia ketika dia senja
jangan kau tinggalkan dia ketika tak kuasa
aku nanti kalian di ambang pintu surga dan neraka.
berganti suasana sepi yg enggan beranjak pergi.
Kau tinggalkan aku sendiri di pagi tak bermentari
tak bernafas disini
Kembalilah sayang setidaknya untuk melihat ku mati
Kafani aku agar aku terlihat layak menghadap ilahi.
semua ini berawal ketika ku terlalu percaya diri menikahi mu di usia dini.janji sehidup-semati ini terlalu pagi untuk diakhiri.5 tahun yang lalu setelah beberapa tahun setelah pengukuhan gelar kesarjanaan ku,aku terlalu percaya diri menikahimu.terlalu berpikir mampu mengimami mu.tanpa ada persiapan ekonomi yang mengikuti.tanpa ada persediaan pundi2 rupiah yang dikantongi.bermodal cinta terlalu bodoh untuk mengawali.dengan keyakinan 4tahun mempertahankan status,berharap naik ke level berikutnya tanpa persiapan ritualisasi.bodoh.
semua berjalan sangat manis di pagi itu,di pagi pertama aku mengawali pagi dengan kau disisi.setelah hari sebelumnya kita menjadi raja dan ratu sehari di pelaminan.haru tak terkira.rasa kesetiaan ku sangat tinggi saat itu,ingin rasanya aku melumpuhkan naluri lelaki ku untuk menyukai lawan jenis saat itu agar ku selalu setia sampai mati.pagi itu kau membawakan ku kopi yang menyadarkan letihku.sungguh kopi yang beraroma surga.aku suka itu.
"mas,ini kopinya"
kau menawarkan ku dengan manisnya.
aku tertawa geli dan belum memiliki pengalaman khusus dalam memerankan seorang suami,aku tertawa geli dan membalas manja.
"tiupin,panas"
aku sampai terpingkal-pingkal sendiri.
benar-benar hangat kenyataan 3bulan pertama kita.semua masih bersuasana dongeng yang terasa mimpi.apalagi moment terindahnya ketika hari ulang tahun ku yang ke 26.saat itu aku baru pulang dari toko untuk membeli rokok.
dan ketika ku baru masuk menginjak rumah kontrakan kita,kau langsung mengecup bibirku dan berkata
"ayah,selamat ulang tahun ya.ada kado dari Allah khusus untukmu".
aku bingung tak berkomentar.
Ayah ?
kado ??,kado apa ?
pekerjaan ?? jika benar,aku sungguh sangat bersyukur.sampai ini ku masih tetap setia dengan menulis dan menulis.
tak terlalu menjanjikan untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga kecil ini.
" ayah ??,tumben kamu manggil aku ayah yang ?? "
" kado apa,dari Allah ?"
" lamaran pekerjaan ku di terima ?"
aku tak henti menyerang istriku dengan semua pertanyaan penuh harap.
“ bawel ah,liat aja tuh di meja tulis mu”
Aku berjalan berat dengan semua tanda Tanya menuju tempatku menghabiskan waktu untuk menulis.
“ mana sayang,mana undangan kerjanya ?”
Tanya ku makin penasaran.
“ckckckckckc . . . . kamu ini taunya usaha aja,udah berhasil gak tau hasilnya apa ?”
Istri ku menjawab sedikit kesal karna ulah ku yang mendadak bodoh.
“ ini,hasil 2 bulan kamu lembur”
Jawabnya kesal.
Ha,aku lembur ??
Aku lembur selama ini kan Cuma buat nulis.itu pun belum aku selesaikan.kok sudah ada hasilnya ?
Terus kenapa hasilnya dalam bentuk sebuah alat tes kehamilan ?
Aku makin bingung dengan sesuatu yang dianggapnya sebagai kado dari TUHAN itu.
“mana kado dari TUHAN nya sayang ?”
Tanya ku memastikan.
“ kamu ini idiot,atau apa sih ?”
“aku hamil tau,dan yang dalam perut ku ini adalah kado khusus dari TUHAN untukmu !!”
Apa ?? aku benar-benar bingung menentukan sikap.semua ini lebih dari apapun yang aku harapkan.
“Aku akan jadi ayah !!”
“Dunia,dengarkan aku.aku akan jadi seorang ayah.ayah albian !!”
Aku berlari tak karuan.seperti seorang kecil yang girang setelah memperoleh sesuatu yang sangat di inginkannya.aku terus berlari bahkan sampai mengelilingi kotak kontrakan yang sudah kami tempati 3 bulan setelah menikah.bentuk komitmen kami untuk mandiri terhadap hubungan ini.
“ mas bian,udah ah.malu tau ntar diliatin tetangga”
“ingat,kita ini mengontrak bukan rumah sendiri’
Istriku berusaha menyadarkan ku.
Hahahahahaha
Aku tak menghiraukannya.aku peluk dan ku gendong wanita ku itu dan berteriak.
“terima kasih untuk mu kado mu TUHAN !!”
Aku tak henti-hentinya bersujud syukur.
Waktu berjalan bersemangat sampai tak ku sadari istriku sudah mengandung calon peri kecil ku itu 8bulan.itu hasil dari USG yang kami lakukan beberapa minggu lalu.tinggal 1 bulan lagi aku akan jadi ayah.pukul 13.00wib 12 JULI 2016 istri ku mengalami kontraksi hebat.dan aku sesegera mungkin mengatarkannya ke rumah sakit terdekat di kota kami.dan istri ku sesegera mungkin di bawa keruang persalinan.dan aku segera menghubungi seluruh keluarga untuk menyambut lahirnya seorang titipan TUHAN itu.agar dia kelak tak merasa kesepian di saat pertamanya membuka mata melihat dunia.sudah 2 jam lebih istri ku di dalam sana berjuang memerdekakan keinginan hidup anak kami.ketika dentang jam berbunyi 3 kali,menandakan saat itu waktu sudah menunjukan pukul 15.00wib,seorang dokter keluar dengan wajah yang tak bias di terka.
“mana suami dari ibu gisela ?”
dan dia mengagetkan semua dengan bertanya
“saya dok,saya,bagaimana kabar istri saya ??”
“ Bagai mana dok,istri dan anak saya selamat kan ?”
Dengan sedikit menangis Aku menggoyangkan-goyangkan tubuh dokter itu agar dia cepat menjawab.
“anak anda perempuan pak.tapi maaf pak bian,kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya.kami memilih menyelamatkan isti anda.karna anak anda tetap berpeluang hidup walaupun sampai saat ini masih belum menunjukan tanda-tanda kehidupan.kita sama-sama mengushakan dan mendoakannya ya pak”
Aku terjatuh lemas mendengarnya.aku sudah mempersiapkan semua penyambutan untuk peri kecil ku itu.semua cita-cita ku yang aku ingin dia yang mewujudkannya.aku nyaris gila untuk menerima kenyataan itu !!.
Pukul 17.00wib ketika aku menghampiri tubuh mungil jagoan ku itu dan bersiap memandikannya dan mengadzaninya.ketika ku basuh lembut kepalanya,mendadak malaikat kecil itu menangis lantang hingga terdengar hampir keseluruh rumah sakit.
dia hidup !!
Dia bernyawa !!
“dokter,dokter anak ku hidup !!”
aku berteriak memeluk dokter.
“selamat ya pak albian,dan ibu Gisela.anak anda cantik seperti ibunya ”
Dokter memberikan kami selamat untuk kelahiran putri kami.
Dokter benar,anak itu terlihat bercahaya setelah senja bergelayutan di ujung barat.itu mengapa kami menamakan anak itu cantika Sheila jingga.nama yang cantik untuk dia yang cantik.aku menangis menerima itu semua.terima kasih TUHAN.
TUHAN,kau turunkan malaikat mu ketika senja
ketika jingga enggan pulang kembali ke nirwana
mentari pun tak rela meninggalkan dunia karenanya
tak menangis mengawali dunia
membuat semua bersiap dalam duka
kau jawaban dari semua tanya
hal terindah khusus dariNYA
cantik bercahaya mengalihkan surga
dan aku,akan segera dipanggil ayah
TUHAN,ku pasrahkan hati dalam sujud tak terkira
ku hambakan diri menjaga semua indah
menuntunnya untuk kembali ke surga
bukan penyiaan penyesatan menuju neraka
ku rasa sekarang surga sedang berduka
berberat hati merelakan bidadari terindahnya
jingga,cepat besar ya nak
agar ayah bisa melihat kau merekah merayu dunia
bersama ibu mu kau membuat ayah sempurna
kalian menjadi alasan ku pertahankan nyawa
Tulisan itu ku tulisakan sebagai wujud syukur atas kelahiran cantik ku kedunia.hari dimana turunnya seorang mahluk surga ku de dunia.terima kasih TUHAN.saat itu bahagia ku mengalahkan segalanya.bahkan soal pembiayaan persalinan istri dan wanita baru ku itu nyaris ku lupakan.aku tau semua itu tak cukup hanya dengan ucapan terimakasih.beruntung aku sudah bersiap-siap untuk hari ini.tapi itu hanya berarti penundaan untuk memilik rumah sendiri.maaf sayang,ayah hanya bisa menyambut mu dengan kotak persegi ini.bukan istana bertahta emas.ayah harap kamu akan terbiasa.untuk kamu istri ku,ku harap kita masih memilik cukup banyak bahagia yang terisisa.AMIN.
waktu berjalan tanpa letih,jingga tumbuh menjadi seorang balita cantik menggemaskan.yang menjadi alasan ku untuk mempertahankan nyawa untuk esok,esok dan seterusnya sampai ku mati dalam kebahagiaanya.
"ayah . . .ayah . . ."
dia terlihat bersemangat setiap kali aku pulang berburu mencari pekerjaan.
" cantik,udah mandi ?"
aku mencium wanita ku itu.
"udah dong,jingga cantik kan"
dia bertanya polos.
"cantik dong,anak siapa dulu"
aku menciumnya sembari menggendongnya.
malam itu aku mengajak istriku duduk-duduk santai di luar rumah.hanya itu hiburan yang bisa aku sajikan untuknya.sudah lama aku tak membahagiakan wanita yang aku nikahi itu.pesonanya pun nyaris memudar di balik pakaian lusuh yang aku belum memiliki cukup uang untuk menggantikannya dengan yang baru.
"mas,sepertinya aku juga harus kerja.aku tak bisa terus berharap dari tulisan dan usahamu mencari pekerjaan yang layak"
dia membuka obrolan.
"kenapa sayang,aku masih cukup mampu kok untuk terus berusaha membahagiakan kamu dan gigi"
aku menjawab penuh penasaran.
"mas,aku tak bisa terus-terusan melihat gigi menangis setiap kali melihat temannya bermain dengan bonekanya masing-masing"
aku melupakan itu.aku belum juga membelikan boneka yang kujanjikan untuk anak itu.maafkan ayah ya nak.ayah tak memiki cukup rupiah untuk mengabulkannya.
"pokoknya aku akan kerja,aku juga bertanggung jawab terhadap keluarga ini"
dia berlalu meninggalkan aku dan lukisan malam itu.
paginya,aku bersiap memulai perburuan ku berburu rupiah melalui harapan penerimaan jasaku.semoga hari ini ada direktur yang bijak yang mempercayai keahlian pria seperti ku untuk bekerja dikantornya.semoga saja.
"bu mana kopi ku ?"
sudah lama aku tak merasakan kehangatannya seperti waktu kami baru menikah.
"kopi apa ?,kamu lihat tuh gula dan kopinya sudah habis !"
jawabnya dengan nada sedikit ketus.
aku tak menganggap itu adalah akibat dari obrolan tadi malam.
hari ini aku agak sedikit beruntung.salah satu cerpen ku di terima salah satu koran untuk turut di tampilkan.
alhamdulillah,aku masih bisa menjaga dapur ku tetap mengepulkan asapnya.terimakasih TUHAN.
aku pulang dengan langkah sedikit ringan karna berhasil mengantongi sedikit rupiah.aku juga menyisakan sedikit untuk membelikan sebuah boneka untuk malaikat kecil ku itu.dia pasti akan senang banget.ketika ku pulang aku mencari-cari mereka.
"sayang . . .sayang . . .lihat ayah bawa apa ?"
tak juga ku temui bocah itu di setiap sudut kontrakan ini.
aku hanya menemukan sebuah surat bertuliskan :
untuk mas albian
"mas,aku dan jinggai tidur dirumah mama.tadi pagi jingga sakit.panasnya tinggi banget.aku bingung mau kemana lagi.
kamu juga belum pulang.jadi aku putuskan untuk pulang kerumah mama.aku takut jingga kenapa-napa.maaf aku tak bilang apa-apa sebelumnya.aku juga baru menyadarinya ketika kamu udah pergi.aku meninggalkan makanan untuk mu di meja makan.aku akan pulang ketika jingga sudah sehat"
dari istrimu,gisela.
aku terduduk lesu di kursi rotan milik kami.kenapa harus begini TUHAN.kenapa masalah makin runyam ketika aku pulang membawa sedikit pencerahan lewat rupiah meskipun tak seberapa.aku pasti akn terlihat tak bertanggung jawab terhadap anak istri ku.aku pasrahkan semuanya pada mu TUHANkau pemilik hidup ku.aku lupakan sejenak beban pikiran itu berjalan untuk melihat apa yang ditinggalkan istri ku untuk ku.ku buka tudung saji itu.dan seperti biasa.hanya ada tempe dan tahu goreng sperti biasanya.harusnya kita makan cukup enak hari ini sayang.tapi kau justru tak ada dirumah.
siang itu aku lagi sendiri dirumah ketika seorang tukang post mengantarkan sesuatu ke alamat ku."betul ini rumah bu gisela ?"tukang pos memastikan.
"betul,ada kiriman apa ya ?"
aku bertanya.
"ini pak,ada kiriman untuk ibu gisela ?,silahkan ditandatangani tanda terimanya"
setelah menandatanganinya dan mengucapkan terimakasih,tukang post itu berlalu untuk menunaikany tugasnya yang lain.aku bertanya-tanya tentang isi dari amplop itu.siapa yang mengiriminya ??.kenapa gigi tak pernah cerita ?
aku sedikit terkejut ternyata itu adalah surat pernyataan penerimaan kerja untuk gisela,istri ku.
kapan dia melamar pekerjaan ?
dia tak bilanga apa-apa setelah mengutarakan keinginannya bekerja setelah malam ini.
aku merasa di langkahi sebagai suami.mengapa dia tak berniat untuk menghargai ku ?
minggu pagi pukul 8.30 wib,ketika aku lagi asyik menulis cerpen baru,gigi pulang dengan jingga diantarkan orang tua mertua ku.ku ku tunda untuk membahas rasa penasaran ku.aku sambut mereka dengan menyalaminya.tapi tak berbalas cukup sama.
"bian,kamu masih juga belum dapat kerja ya.kamu itu seorang suami kasihan anak istri mu"
pernyataan mama mertua ku itu menjatuhkan ku.
" iya ma,aku juga lagi usaha kok"
aku mencoba membela diri walaupun kenyataanya aku meman kalah.
"kamu harus cepat mencari kerja.kamu pikir bisa membahagiakan mereka hanya dengan menulis ?.
ini mengapa mama dulu kurang setuju kalian menikah di usia muda"
aku semakin tersudut dengan pernyataan itu.aku tak ingin terlihat lemah lebih dari ini.
malamnya aku mengajak istriku bicara setelah jingga terlelap bersama boneka beruangnya yang ku belikan untuknya kemarin.aku ingin mempertanyakan soal keinginan istriku itu untuk bekerja.aku merasa kurang setuju bukan karna aku bukan pria yang tak menghargai emansipasi wanita.tapi aku tak ingin jingga perkembangan jingga yang menjadi korban.
" sayang,kamu serius mau bekerja.gak dipikirkan lagi ??"
aku mencoba mempengaruhi keputusannya.
" mas,aku kan udah kasih alasan mengapa aku mau bekerja.aku mau kehidupan kita lebih baik lagi"
dia memiliki alasan yang bisa ku terima.tapi tetap saja aku memilik perasaan yang tak baik dan menkhwatirkan jingga yang akan dikorbankan.sekarang saja jingga sering kehilangan perhatian ku sebagai ayahnya.bagaimana jika ibunya juga disibukan hal-hal di luar rumah ? tapi setelah dia mencoba meyakinkan ku, pada akhirnya aku mengiyakannya sebagai bentuk menjaga hubungan suami-istri ini.ku harap dia bisa mempertanggung jawabkannya.
benar saja,setelah beberapa bulan bekerja,keuangan keluarga kami membaik.pagi itu setelah sholat subuh aku meminta dibuatin kopi yang sudah lama tak membasahi dahaga ini.bukannya kopi yang ku dapati,
gigi hanya menjawab
"maaf mas,aku ada meeting dengan bos pagi ini.kamu buat sendiri aja ya"
dan tergesa-gesa berlalu.
ini yang ku takutkan setelah meluluskan keinginannya bekerja.
dia tak lagi berwajah lama di setiap pagi ku membuka mata dan berubah menjadi manusia yang tak takut dosa.
pergi sangat pagi dan pulang larut malam.dan aku hanya berbohong ketika anaknya menanyakan keberadaanya padaku.
" ibu lagi bekerja sayang,sabar ya "
dan seperti memiliki satu pikiran yang sama dengan ku.
"tapi kok sampai malam ya yah ?"
kasihan malaikat ku.
sabtu malam ketika jam tangan kul menunjukan pukul 23.45 wib,sebuah mobil sedan hitam bertamu di depan rumah ku.
dan ku lihat istri ku menuruninya.tak terlalu jelas siapa yang mengantarnya.yang jelas,dia pria.
"gak mampir mas ?"
tanya istriku pada pria itu.
ntah hanya basa-basi atau memang penuh harapan aku tak tahu.yang jelas ini bukan waktu yang pantas untuk seorang wanita masih diluar rumah.apalagi dia adalah istri ku.ntahlah aku bingung menentukan sikap.aku bingung menerimanya.setelah dia memilih untuk bekerja masalah tak pernah absen ikut ambil bagian dalam keluarga ini.
puncaknya ketika malam berikutnya dia pulang dalam keadaan mabuk dan keadaan kusut.
"kamu dari mana bu,kamu mabuk ?"
tanya ku dengan tegas.
"udah ah mas,aku capek.besok aja kalo mau ngobrol "
dia benar-benar berubah setelah mengenal dunia.
yang jelas sejak rumah ini diramaikan dengan permasalahan suami - istri,jingga tak lagi terlihat bercahaya.
benar dugaan ku.ini semua hanya lah wajah awal dari permasalahan yang lebih buruk.dan yang jadi korbannya justru jingga yang tak tahu apa-apa.tangisannya terdengar lirih setiap kali kami harus bertengkar.maafkan ayah mu nak.
rabu sore ketika ku pulang dari usaha ku yang msih sama dengan hari kemarin.minggu lalu dan bulan lalu,yaitu mencari kerja,aku tak mendapati 2 orang wanita ku itu dirumah.lagi dan lagi aku hanya mendapati sebuah surat bertuliskan dari gigi,istri ku.
untuk mas bian
"mas,aku rasa kita sudah tak bisa meneruskan hubungan ini.aku tak bisa terus hidup dengan kemiskinan mu.setelah beberapa bulan aku bekerja,kamu masih saja setia dengan tulisan-tulisan tak menjanjikan mu.kolotan.jingga ku bawa mas,biar aku yang bertanggung jawab membesarkannya.maaf kan aku mas"
dari istri mu,gisela dwi jingga.
aku tak bisa berkata apa-apa.aku hanya tertawa karna tak bisa menentukan sikap lagi.aku tak bisa mencegahnya juga.
tak ada gunanya aku mengutuk diri jika jingga tak disini.aku merasa tak ada lagi alasan aku pertahankan nyawa.ku harap dia kembali kesurga sebagai bidadari.kasihan kamu nak,keputusan mu meninggalkan surga tak terlalu tepat.
"jingga. . . .jingga"
aku memanggil-manggil anak itu.aku lupa kalau pagi ini hari pertama ku bangun tanpa jingga disaat pagi membuka mata,aku nyaris gila.aku harus terbiasa.
pagi berikutnya,aku memanggil-manggil istri ku.
" gigi,gigi . . .sayang mana kopi ku ?"
lagi -lagi aku dalam tahap kritis gila.aku masih dalam tahap meneriman kenyataan kalau kopi terkhir ku adalah kopi 2bulan yang lalu.
sekarang aku memahami penolakan orang tua kami ketika menikah di usia dini tanpa ada persiapan ekonomi yang mumpuni.aku berpikir terlalu pagi untuk bisa mengalahkan malam.
sekarang aku hanya bisa meratapi ini sambil menunggu mati.
ku tulis semua ini sebagai cerita untuk mu anak ku jingga,dibantu oleh teman ayah yang menuliskannya.
ayah tak cukup mampu untuk menuliskannya
setelah kecelakaan itu,saat ayah masih mampu mencari mu.
kedua tangan ini harus di amputasi untuk menunda mati.
ayah harap kamu sekarang sudah cukup dewasa untuk tak mengulangi kegagalan ayah nak.
ayah sayang kamu dan ibumu.
ada puisi terakhir untukmu nak,ayah harap kamu suka.
puisi yang akan mengantarkan mu menemui ayah setidaknya untuk mengafani ayah.
Jika kau temukan aku tak lagi berdiri
jika kau temukan aku yang terlalu sombong tak mengerti
bukan karna aku tak ingin kau kembali
tapi karna ku sudah tak lagi menginjak bumi
diam ku bukan berarti ku tak menanti
tenang ku bukan berati ku tak disini
gagal ini jangan kau ulangi
tak usah terlalu percaya diri
untuk hal yang masih tak pasti
di sini,ayah kan mengawasi
memastikan kau tak tersakiti.
kau pasti sudah semakin cantik
layaknya senja saat kau pertama di dunia ini
nak,jaga selalu ibumu.
dia adalah ibu yang baik
rangkul dan hangati dia ketika dia senja
jangan kau tinggalkan dia ketika tak kuasa
aku nanti kalian di ambang pintu surga dan neraka.







