Jumat, 13 Januari 2012

secawan khamr di pelaminan TUHAN




malam,ketika jiwa mu hinggap dalam untaian bait terindah ku,
kau hening untuk sejenak usaikan letih mu sebelum melanjutkan hidup.
kini kau telah lama tak kulihat.
setelah hari dimana sayap mu telah temukan kembali kepaknya dan tinggalkan sajak ku tanpa nama mu lagi.ingatkah kau ketika kau menyingsing menjadi pagi,awal kematian yang sungguh mampu getarkan nurani.sebelum terhapus oleh hujan,kau sempat berkata,
“ wahai kekasih ku,di kedua matamu bulan dan mentari terbit bersamaan,serta malam dan pagi pun temui ajalnya seirama.kelak kau akan dengarkan kabar ku yang terbunuh oleh rindu yang menghujam jantung ku.jika aku kembali dan kau telah bersama siang,aku masih disana menanti hingga waktu ku habis setelahnya ”.
kini,pulanglah.bawakan aku secawan khamr yang akan kita nikmati di pelaminan TUHAN.
kan ku pinang kau di antara senja dan bersiap berangkatnya jingga menjadi kelabu.

ketika kau yang tak jua tuangkan rasa dalam cawan tua ku,apa kah aku harus terus berlari hingga berhasil ku tangkap engkau wahai angin ?
sore kemarin saat ku sedang setia di sana,masa depan mengunjungi ku.disebelah tangan kanannya ku lihat sebuah cerita dan di ulurkannya pada ku.dan ia bersajak menyapa,
“wahai pelukis,jadikanlah aku sayap mu.kan ku bawa kau kembali ke sana.negeri di atas awan.singgasanamu sendiri ”
haruskah ku gapai atau ku tepiskan ?


pagi ini mentari terlambat datangnya.
tak ku lihat juga kau diantara langit-langit jiwa ku.
apakah rindu tak pulang sejak semalam ?
atau mungkin terbawa angin ke senja itu ?
jika itu adanya,sudikah kau kembali.
aku yang masih terduduk manis di bangku taman itu.
yang masih setia menjaga malam-malam kita sejak kemarin.


kasih,jubah ku terbakar tepat sebelum aku mengunjungi mu.
ketakutan ku atas pengkhianatan hari kemarin,membisikan kekhawatiran untuk menginjak esok.
tawarkan aku 1 alasan bijak mu untuk hidupkan kematian ini.lagi.
biarkan ku lukis luka ini di langit terakhir malam ini.
biarkan pudarnya menghujani kita dengan dongeng itu.


mungkin aku lupa rupa mu
tapi
aku tak kan pernah lupa
aroma tubuh mu

layaknya hari kemarin
kau tampak cantik dengan senyum itu
dan wewangian dari aura mu
semerbak udara yang ku ingat hari ini

Leave a Reply

 
 

Labels