Senin, 26 Desember 2011

" NYANYIAN DESEMBER "




pagi,desember ini perlahan warna-warni pelangi di wajah mu hilang.mengapa ?

di ujung tahun ini ku lihat kau tersedu.apakah karna kepunahan mu akan dirayakan semesta.semua itu tak berarti aku tak akan menanti mu di taman itu.esok,kunjungi lah aku.itu jika nyawaku tak hilang terhapus hujan satu-persatu.atau jika aku tak tenggelam di bawah reruntuhan langit.ku harap.


“ sayang,riwayatnya telah digariskan.tak kan runtuh bulan untuk kau miliki sendiri ”.

itu yang kau ucapkan sebelum kau memilih takdir mu sendiri bersama hujan.ku harap angin januari membawa mu pulang kembali.temui aku di antara langit-langit bukit tempat biasa indahnya langit yang menguning di ufuk timur menghibur kita.bersama cahayanya yang berguguran menerpa wajah kita,tepat ketika pintu jiwa membuka.seperti biasa.disaksikan munkar-nankir yang menatap curiga,kau tersipu malu.masih ingatkah kau ketika ku kecup ragu mu dan ku belai peluh itu.dan kau pun rangkul dan bisikan kepada ruh ku, “ sayang,gunung di sana akan merendah memuja keagungan cinta.dan laut disana akan tertidur oleh nyanyiannya.namun,kelak kau akan tahu pula kisah itu jua yang mampu merobek-robek langit.hingga kau mampu untuk menyaksikan lukanya dan menyentuhnya iba ”.
kau tak kembali setelah hari itu.
ku kira angin desember yang kan mengantarkan mu.pagi ini tak asing untuk ku.

ku lihat kau menuruni bukit wahai jasmine.jauh di padang ilalang itu kita berkumpul.terbaring kita diluasnya yang menghijau.sambil menghadap ke langit ku genggam tangan mu,dan aku pun bersajak.“ aku terlahir kembali untuk kembali mati.ingatkah kau jauh sebelum hari ini kita pernah mengejar angin dan menangkap pelangi.lalu ku lepaskan ia dalam bingkai kaca kita.tapi itu justru membuatnya hancur dalam ke egoisan muda kita yang indah ”.


masih biru kah langit yang melengkung indah di alis mu.masih ingat kah kau ketika ku penjara kan pelangi untuk kau kenakan di hari itu.hari dimana kau kan ku pinang sebagai ma’mum ku.jadi kan ku raja di malam mu,dan ku pastikan pagi tak kan meninggalkan mu.di punggung sang takdir aku merajut asa.ku sulam dan menyulapnya untuk ku ubah menjadi jubah.yang kan jadikan ku tampak gagah berdiri disinggasana mu wahai jiwa.


malam ini,temui aku di antara wajah kematian itu.dibatas-batas kehidupan sayap ku kehilangan keangkuhannya.kehendak ku dikalahkan oleh kehendaknya.oleh rangkulan sang takdir yang mematahkan belulang ku.rengkuhan sakaratul ku lenyap di telan tawa rembulan yang menari-nari di ubun-ubun ku.kemarilah kasih,usap peluh terakhir ku ini.ku tak seabadi kisah ini.di atas pusara ku jibril berpesan,“usah kau tangisi jasad ini,itu tak terlalu mampu untuk bangkitkannya kembali”.


pagi ini ku lihat jiwa-jiwa berterbangan.tepat ketika aku melukis wajahmu diwajah ku,wajahnya.satu-persatu sajak ku berjatuhan terpatahkan sayapnya oleh mu.sebelum aku hidup hari ini,kau pun berpuisi. “hitam bukan putih,dan putih bukan selainnya.putih tak kan menghitam,dan sisanya kokoh pada pendiriannya.namun dalam gelap semua warna kan melebur tak ada beda.lanjutkan hidup mu,dan temui aku nanti disurga kelak”.



malam ini angin mengunjungi ku.kabarkan bahagia dari perjamuan ku di musim semi.ajak ku berlari bebas di awannya.di taman langit tempat kita duduk berdua dulu,kini aku kembali merayakannya.tanpa mu.hanya aku dan beberapa mahluk surga yang turut di dalamnya.ingatkah kau ketika aku memuja mu yang agung,dan tangis mu berderai menjawabnya.di ujung alis mu ketakutan melengkung indah,ketika langit barat berjalan menuruni laut,kau pun bersajak,

“ wahai kekasih ku,naskah sang takdir bercerita banyak tentang kita.aku yang berjodoh bersama malam,dan kau yang bermempelai siang,sanggupkah kau memberontak jika kita digariskan tak berjodoh ?”.
dan kini,keraguan mu terbukti bersama datangnya musim gugur yang menyapa desember.dari bawah reruntuhan janji aku bernyanyi,
“ bagaimana kabarmu kini cinta ? ”


tak akan ada esok tanpa pagi.aku lah sang pagi,yang kau tinggalkan bersama malam.ingatkah kau ketika kau selimuti aku hingga aku menenggelam di ufuk barat.langit ku tak se takjub ketika dahi ku masih memahkotaimu.jika sejenak kau merindukan ke egoisan kita,keluar dan rasakan lah aku.aku masih disini menanti cahaya itu tenggelam di timur sana.aku lah pagi itu.



teruslah bahagia dengan caramu.

dan aku,akan tetap hidup dengan kehendakNYA.
ku harap.



malam,ketika jiwa mu hinggap dalam untaian bait terindah ku,kau hening untuk sejenak usaikan letih mu sebelum melanjutkan hidup.kini kau telah lama tak kulihat.setelah hari dimana sayap mu telah temukan kembali kepaknya dan tinggalkan sajak ku tanpa nama mu lagi.ingatkah kau ketika kau menyingsing menjadi pagi,awal kematian yang sungguh mampu getarkan nurani.sebelum terhapus oleh hujan,kau sempat berkata,“ wahai kekasih ku,di kedua matamu bulan dan mentari terbit bersamaan,serta malamdan pagi pun temukan ajalnya pada detik yang seirama.kelak kau akan dengarkan kabar ku yang terbunuh oleh rindu yang menghujam jantung ku.jika aku kembali dan kau telah bersama siang,aku masih disana menanti hingga waktu ku habis setelahnya ”.

kini,pulanglah.bawakan aku secawan air surga yang akan kita nikmati di pelaminan TUHAN.kan ku pinang kau di antara senja dan bersiap berangkatnya jingga menjadi kelabu.


. . . . . Dan akhirnya,hujan juga yang akan menidurkan ku.layaknya negeri disana,olehnya jua nafasnya terselamatkan.dan ku harap,esok tubuh ini tak serendah ini untuk melanjutkan diri.ada hari yang harus ku kalahkan setelah malam ini.dan kan ku gantungkan jasadnya di langit-langit kalian.sebagai symbolisasi aku lah tuannya.

apa yang kau lihat dari salah satunya,jangan kau gunakan untuk menghakimi kumpulannya.


di bangku taman ini aku duduk sendirian.hanya ada nyanyian dari bunga-bunga yang bersahutan ditiup angin malam.akan kah kau turun untuk sekedar menyapa ku wahai jasmine ?

jauh di barat kulihat sang dewi memainkan harpanya.dan di sisinya ku saksikan mahluk bersayap itu melukis langit dengan jemarinya.wahai kekasih jiwa,keluar lah sejenak.temani aku untuk menikmati keindahan surgawi ini.atau harus kah ku pinta dunia dari tanganNYA,agar sesaat saja kau mau mengunjungi sepenggal masa lalu ini ?
ku rasa kau terlalu angkuh untuk membohongi salah satu dari diri mu sendiri.


kau yang bersemayam di setiap ciptaan ku.kau yang mampu runtuhkan istana langit sekalipun.tahu kah kau bahwa kau lah yang sejak awal hidup dan bangkitkan ku,dan kau pula yang telah lukis kan kematian ku.di mana kah kau kini wahai sebelah sayap ku ?

masih kah kita beratap langit yang sama dan berpijak pada tapak yang jua sama ?
kau yang di tawan oleh takdir,kan ku bebaskan kau dari cengkraman tangan-tangan waktu yang telah penjarakan mu.kan ku robek-robek dada sang waktu dan kan ku nikmati nafasnya yang tertikam oleh kebebasan.dan kan ku pinang kau setelahnya.berpenghulu kan jibril dan para malaikat sebagai saksinya.di altar langit yang telah menjadi milik kita,kan kita biarkan keturunan ku berlari bebas di cakrawalanya.semua ini semata karna kau lah awal dan akhir ku.


sebelum malam yang kan hapuskan mu,sebelum keangkuhannya sembunyikan cantik mu,dan biru mu terselimuti oleh hitamnya,dengarkan syair ku tentang mu. “ kau yang dulu telah salah memilih taman untuk merekahkan diri,kini bebas dan lukislah hidup mu sendiri.di sini aku kan menikmati kisah mu di langit-langit desember  meski bukan aku penulisnya ”

Leave a Reply

 
 

Labels