oleh Sigit Prammono pada 10 Juli 2011 jam 14:59
Kaum hawa yang satu itu masih terlihat siap untuk menghabiskan sisa nafasnya. Meski terus diserang efek samping dari usia yang tak bisa ditunda, tak mengurangi patriotismenya memburu kebahagiaan. Dengan tubuhnya yang tak ringan itu, selalu ada rintihan sakit disetiap langkahnya. Beberapa tahun terakhir ini, wanita itu memang mengalami keluhan persendiannya. Menandakan nyah sudah berapa banyak peperangan kehidupan yang sudah dimenangkannya. Kerutan tua itu juga tak terlalu sakti untuk menghapus jejak-jejak kecantikannya. Menunjukkan kalau dia adalah salah satu wanita idaman pria pada masanya. Tak pernah mengeluh untuk mengurusi suami dan keturunannya, membuatnya terlihat sempurna sebagai calon penghuni surge. Tak cukup banyak kebanggaan yang kuberikan, tak sedikit pula kecewa yang kubawakan untuknya. Tapi BELIAU tak pernah beristirahat dari misinya membahagiakan aku dan suaminya. Kapan ku siap untuk mengambil alih peran itu, meneruskan dan menggantikannya sebagai seseorang yang selalu membuat kami bahagia??
Hmmm… saat isroil menyapamu, setidaknya ku pastikan ku sudah berani keluar RUMAH SENDIRI. Menaklukan dunia tanpa takut terjatuh dan tertinggal. Itu kan yang selalu kau dongengkan ketika ku terbuai belaimu dan terlelap dalam pangkuanmu. Rasanya aku ingin menjadi peterpan, tokoh dalam dongeng yang tak bisa dewasa itu. Agar ku selalu menjadi gatot kaca kecilmu bu.
Tapi, ku harus menjadi dewasa agar bisa membuatmu menutup mata dengan senyuman. Atas nama yang kau berikan padaku, akan kubahagiakan wanita itu. Minimal membuatnya merasa yakin meninggalkankumenghadapi dunia yang tak kenal ampun ini. Sungguh beruntung pria yang kupanggil ayah itu mendapatkannya. Ntah kapan dan dibelahan bumi bagian mana bisa kutemukan wanita seperti istrimu itu ayah. Yang tak kecewa ketika ku pulang tanpa rupiah, tetap disampingku walau ku tak lagi bertahta. Sebisa mungkin tersenyum meski kulupa membahagiakannya. Dan menjadi ibu yang layak untuk anak-anakku nantinya. Ku rasa stock manusia seperti itu tak diciptakan banyak di bumi ini. Atau kalaupun ada, tak tersedia murah untuk dinikahi. Selain itu aku juga bercita-cita kelak dishalati lebih dulu dari istriku. Ntah mengapa, ku merasa lebih berwibawa saya bertindak sebagai pengawas untuk keluargaku dari pada duniaku yang baru nantinya.






